Apa Saja Masalah E-commerce di Indonesia?

Perkembangan E-commerce di Indonesia bakal terus meningkat seiring perkembangan teknologi dan informasi. Toh, lebih dari 64,8 persen dari total 267 juta penduduk Indonesia sudah melek internet sehingga potensi E-commerce berkembang pesat semakin besar. Berdasarkan ulasan dari Tech in Asia yang merangkum beberapa masalah E-commerce Indonesia dari pertemuan Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) wajib Anda perhatikan berikut ini.

  1. Infrastruktur dan prosedur kurang mendukung

    Masalah E-commerce Indonesia terkait infrastruktur dan prosedur menjadi pembahasan penting para pelaku usaha. Pasalnya, perusahaan tidak akan sanggup mengatasi tantangan infrastruktur tanpa campur tangan pemerintah, bukan? Hal ini terkait dengan jaringan internet yang kurang cepat atau tidak stabil serta sarana trasnportasi yang masih belum memadai. Pengiriman paket menuju ke wilayah yang agak terpencil masih susah dilakukan. Anda harus tahu bahwa logistik di Indonesia masuk dalam kategori mahal di dunia, lho!
    Selain masalah infrastruktur, pengiriman barang dari atau ke luar negeri masih susah karena prosedur perizinan dan bea cukai. Pemerintah diharapkan segera mencari solusi untuk mengatasi permasalahan vital yang dialami para pelaku bisnis E-commerce yang tengah berada di titik tertinggi.

  2. Pembayaran non tunai yang belum maksimal

    Bisnis E-commerce bisa saja tumbuh melambat karena masyarakat masih mengandalkan sistem pembayaran tunai. Meskipun banyak orang yang sudah melakukan sistem pembayaran menggunakan dompet digital, namun e-payment masih berada dibawah aturan yang sama dengan bank.

  3. Kepercayaan konsumen yang masih minim

    Penting sekali membangun brand yang dekat dengan konsumen sehingga tingkat kepercayaan pada perusahaan semakin besar. Hanya saja tidak ada edukasi dari banyak pihak termasuk pemerintah dalam membantu menumbuhkan kepercayaan konsumen masih terbatas. Jangan heran kalau masyarakat masih enggan melakukan transaksi online karena maraknya penipuan jual beli online. Perlindungan data pribadi konsumen juga menjadi masalah E-commerce Indonesia yang masih belum mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Masalah E-commerce Indonesia tidak lepas dari pihak yang melakukan penipuan online. Keamanan jual beli online menjadi poin penting yang harus banyak dibenahi agar kepercayaan konsumen semakin meningkat. Perlu kerjasama dengan media dalam membangun dan menumbuhkan kepercayaan konsumen lewat pemahaman transaksi online yang terpercaya.

  4. Kepercayaan pelanggan lebih penting dibandingkan dengan sertifikasi

    Hal yang masih menjadi perdebatan adalah perbedaan pandangan pelaku usaha. Sebagian pemain lokal bisnis E-commerce menganggap bahwa kepercayaan pelanggan merupakan hal yang lebih utama, sedangkan sebagian lain menganggap bahwa usaha online perlu sertifikasi. Sebuah masalah E-commerce Indonesia yang harus ditekankan dengan pemberian edukasi pengenalan sertifikasi.

  5. Bisnis E-commerce dihilangkan dari daftar investasi yang memiliki stigma negatif

    Stigma negatif masih menjadi masalah E-commerce Indonesia saat ini. Seperti yang diketahui banyak pelaku usaha bahwa bisnis E-commerce merupakan daftar industri yang dicoret dari investasi asing sejak 2013. Jangan heran kalau perkembangan bisnis E-commerce agak melambat sebab tidak ada campur tangan investor asing yang bisa mengembangkan bisnis semakin besar.

    Adanya aturan tersebut masih menjadi topik pembahasan para pelaku bisnis E-commerce lokal. Harapan para pelaku usaha bisa mengembangkan usaha lebih besar baik skala nasional atau internasional tanpa kendala aturan berlebihan. Tentu adanya investor asing wajib melalui tahapan dan peraturan yang jelas agar tidak memberikan kerugian pada salah satu pihak.

  6. Dukungan dan perlindungan pada pelaku bisnis E-commerce lokal

    Bagi pemula yang tertarik terjun ke bisnis online menggiurkan ini, masalah E-commerce Indonesia yang belum bisa memberikan dukungan dan perlindungan masih menjadi perhatian utama. Pajak menjadi masalah utama yang dihadapi para pemain E-commerce baru. Perusahaan E-commerce yang baru saja tumbuh sudah mendapatkan pajak besar bisa membuat usaha menjadi mati. Nah, bagaimana pemerintah hendak mendukung pelaku usaha kecil di Indonesia?

    Setidaknya pemerintah diharapkan bisa memberikan potongan pajak pada para pelaku usaha baru. Selain itu, kemudahan peraturan pada pelaku usaha baru yang masih tumbuh atau skala kecil hingga menengah untuk mendapatkan akses ke investor harus dipertimbangkan lebih lanjut. Masalah E-commerce Indonesia yang vital perlu adanya kerjasama lintas kementerian bukan sekadar isu yang membahas teknologi dan informatika saja.

Berdasarkan ulasan mengenai masalah E-commerce Indonesia, sudah sepatutnya semua pihak ikut terlibat mencari solusi. Para pelaku industri tidak hanya memiliki persaingan mendapatkan konsumen semata, namun mampu bekerja sama untuk memecahkan masalah yang dialami. Diharapkan pertemuan dengan Kementerian Indonesia bisa terus dilakukan seperti Kominfo, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perpajakan, dan kementerian yang berkaitan lain.

Bisnis E-commerce yang diprediksi bakal menghasilkan estimasi transaksi hingga USD 130 miliar pada tahun 2020 harus dikembangkan lebih besar. Siapa tahu bisnis E-commerce bisa meningkatkan perekonomian negara termasuk memasok pajak perdagangan yang besar. Mari mendukung pemerintah dan pelaku industri untuk menentukan solusi dari semua masalah E-commerce Indonesia agar ekonomi negara bisa tumbuh pesat!

sabadmin: